Bengkulu Dalam Angka 2011 adalah publikasi rutin BPS yang memuat data-data mengenai Provinsi Bengkulu secara komprehensif. Publikasi ini mencakup data-data Provinsi Bengkulu dilihat dari berbagai aspek antara lain Geografis, Ekonomi, Sosial, Kependudukan, Transportasi, dan sebagainya. Data dalam publikasi ini boleh dikutip dengan menyebut sumbernya (BPS Provinsi Bengkulu, red.).
Dalam Bab penjelasan Geografi dan Iklim secara astronomis, Provinsi Bengkulu terletak di antara 2o16′ LU dan 3 o 31 LS dan antara 101 o 01′ – 03 o 41’ BT. Sementara jika ditinjau dari posisi geografisnya, Provinsi Bengkulu di sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat, di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia dan Provinsi Lampung, di sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia dan di sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Seiring dengan itu, Provinsi Bengkulu mengalami pemekaran kabupaten. Tujuannya adalah agar pelayanan pemerintah kepada masyarakat dapat lebih efektif dan efisien, sehingga diharapakan dapat mempercepat pelaksanaan pembangunan. Sampai tahun 20120 Provinsi Bengkulu terdiri dari 9 kabupaten dan 1 kotamadya. Sementara, jumlah kecamatan sampai dengan kondisi saat ini berjumlah 123 dan desa/ kelurahan sebanyak 1507.
Penduduk Provinsi Bengkulu pada tahun 2010 berjumlah 1.715.518 jiwa. Sedangkan pada tahun 2009 mencapai 1.666.920 jiwa atau meningkat 2,92 persen. Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sumatera, maka Provinsi Bengkulu termasuk tingkat yang rendah berada pada urutan ke delapan dari sepuluh provinsi di Pulau Sumatera, sedikit lebih tinggi dari Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Bangka Belitung yang keduanya merupakan provinsi pemekaran. Sumber utama data kependudukan adalah sensus penduduk yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali. Sensus penduduk telah dilaksanakansebanyak 6 kali sejak Indonesia merdeka, yaitu tahun 1961, 1971, 1980, 1990, 2000, dan 2010 pada bulan Mei lalu. Selain sensus penduduk, untuk menjembatani ketersediaan data kependudukan diantara 2 periode sensus, BPS melakukan survei penduduk antar sensus (SUPAS). SUPAS telah dilakukan sebanyak 4 kali, tahun 1976, 1985, 1995, dan 2005. Data kependudukan selain berasal dari sensus dan SUPAS merupakan data proyeksi penduduk. Secara perbandingan, rasio jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan pada tahun 2010 sebesar 105. Hal ini berarti bahwa dari setiap 100 penduduk perempuan terdapat 105 penduduk laki-laki. Jumlah angkatan kerja pada tahun ini sebanyak 855.026 jiwa, sedangkan tingkat penganggurannya sebesar 4,59 persen.
Keadaan sosial penduduk Provinsi Bengkulu digambarkan dalam beberapa variabel, antara lain : pendidikan, kesehatan dan keluarga berencana, keamanan, agama dan fasilitas layanan sosial. Contohnya, pada fasilitas kesehatan yang merupakan cerminan keberhasilan pembangunan di Provinsi Bengkulu. Pada tahun 2010 terdapat 14 buah rumah sakit di wilayah Provinsi Bengkulu, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta. Sedangkan fasilitas kesehatan lainnya yakni puskesmas dan puskesmas pembantu sebnayak 170 dan 438.
Sektor pertanian berperan penting dalam perekonomian Provinsi Bengkulu karena merupakan sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pada tahun 2010 kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Provinsi Bengkulu adalah sebesar 39.90 persen dengan nilai nominal 7,2 milyar rupiah (atas dasar harga berlaku). Cakupan kegiatan pertanian yang ada di wilayah ini terdiri dari beberapa jenis kegiatan yaitu pertanian tanaman bahan makanan, hortikuktura, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Data pokok tanaman pangan yang dikumpulkan adalah luas panen dan produktivitas. Jenis data tanaman pangan yang dikumpulkan mencakup padi dan palawija (jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, dan ubi jalar). Periode pengumpulan data dilakukan setipa empat bulanan dengan petugas lapangan adalah koordinator statistik kecamatan (KSK) dan kepala cabang dinas kecamatan (KCD). Pengumpulan data produktivitas dilakukan melalui pengukuran langsung pada plot ubinan berukuran 2,5 m x 2,5 m. Pengumpulan data produktivitas dilakukan pada waktu panen petani.
Sektor industri pengolahan dalam perekonomian Provinsi Bengkulu relatif rendah dalam peranannya. Hal ini karena relatif kecilnya kontribusi sektor industri pengolahan dalam PDRB Provinsi Bengkulu. Selama kurun waktu 2000-2010 peranan sektor industri pengolahan dalam PDRB kurang dari 5 persen per tahun. Klasifikasi industri pengolahan dibagi kedalam 4 kategori berdasarkan jumlah tenaga kerja, yaitu industri besar jika jumlah pekerjanya lebih dari 100 orang, industri sedang jika jumlah pekerjanya antara 20- 99 orang, sedangkan indutri kecil jika jumlah pekerjanya 5-19 orang, sedangkan industri rumah tangga jika jumlah pekerjanya antara 1-4 orang. Sementara itu subsektor pertambangan juga merupakan subsektor yang kecil peranannya dalam perekonomian Provinsi Bengkulu, yaitu terlihat dari relatif rendahnya kontribusi subsektor pertambangan dalam PDRB Provinsi Bengkulu. Rendahnya kontribusi subsekto pertambangan dikarenakan belum optimalnya eksploitasi bahan-bahan tambang yang terkandung pada areal pertambangan di Bengkulu. Kondisi yang sama juga terjadi pada subsektor listrik, yaitu dimana peranan subsektor tersebut sangat kecil. Pembangunan infrastruktur kelistrikan dalam upaya mencukupi kebutauhan listrik di Bengkulu masih terus diupayakan, baik melalui peningkatan kinerja pembangkit listrik tenaga diesel yang telah ada maupun penambahan mesin diesel yang baru, serta melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kinerja Perusahaan Listrik Negara (PLN) cabang Bengkulu relatif meningkat dari tahun 2009-2010. Hal itu terlihat dari peningkatan daya terpasang, peningkatan produksi listrik, peningkatan penjualan listrik, dan peningkatan pelanggan listrik. Pada tahun 2010 produksi listrik yang terjual sebesar 444,56 juta KWH dengan penjualan listrik sebesar Rp. 287,48 milyar.
Sektor perdagangan, hotel, dan restoran merupakan salah satu sektor yang cukup penting dalam perekonomian Provinsi Bengkulu mengingat perannya dalammenjembatani para produsen dan konsumen. Peranan sektor ini cukup dominan mengingat banyaknya wilayah di Provinsi Bengkulu yang menghasilkan komoditi berupa hasil pertanian, antara lain sayur-sayuran dan buah-buahan, beras serta hasil perkebunan seperti kelapa sawit,karet, kopi, dan aneka komoditi lainnya. Disamping itu juga barang hasil galian/ tambang dan barang-barang industri lainnya. Selama kurun waktu tahun 2000-2010, kontribusi sektor perdagangan, hotel, dan restoran dalam PDRB Provinsi Bengkulu cukup dominan, yaitu berkisar antara19-21 persen per tahun. Pertumbuhan sektor perdagangan, hotel, dan restoran relatif tinggi dalam kisaran 4-6 persen. Provinsi Bengkulu mempunyai potensi yang cukup besar dalam perdagangan luar negeri melalui ekspor berbagai komoditas khususnya komoditas sumber daya alam. Komoditas ekspor Provinsi Bengkulu antara lain : batubara, karet, dan cangkang sawit. Berbagai komoditas ekspor dari Provinsi Bengkulu dikirimkan ke sejumlah negara antara lain Jepang dan Amerika Serikat yang merupakan tujuan ekspor karet maisng-masingsebanyak 35,5 juta ton (74,8 persen) dan 10,02 juta ton (21,2 persen), negara lain yang menjadi tujuan ekspor karet dengan volume ekspor cukup besar adalah China dan Taiwan. Sedangkan untuk batubara, negara tujuan utama ekpor adalah India, Malaysia, dan Jepang masing-masing sebesar 27,65 persen; 17,6 persen; dan 14,9 persendari total ekpor batubara. Sedangkan cangkang sawit diekspor ke Thailand dan Kanada.
Pembangunan dan peningkatan fasilitas transportasi seperti jalan, jembatan penting demi memudahkan hubungan komunikasi dan proses mobilisasi penduduk antar daerah untuk menunjang kelancaran distribusibarang dan jasa sehingga berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi, utamanya untuk daerah-daerah yang sulit terjangkau dan terisolir. Alat transportasi yang tersedia di Provinsi Bengkulu terdapat 3 macam, yaitu tarnsportasi darat, transportasi udara, dan transportasi laut untuk keperluan pengangkutan barang. Untuk angkutan darat, di Provinsi Bengkulu dilayani oleh berbagai perusahaan angkutan yang melayani trayek antar kota dalam provinsi (AKDP) maupun antar kota antar provinsi (AKAP). Angkutan udara di Provinsi Bengkulu saat ini sudah menjadi alternatif bagi penumpang khususnya sebagai sarana transportasi jarak jauh menggantikan angkutan darat mengingat berbagai kelebihan dari transportasi tersebut, seperti waktu tempuh yang relatif pendek dan harga yang kian terjangkau. Namun demikian kontribusi subsektor angkutan udara dalam PDRB Provinsi Bengkulu pada kurun waktu tahun 2000-2010 masih relatif kecil dan lebih rendah jika dibandingkan dengan angkutan darat yaitu hanya berkisar 0,25 persen per tahun.SEdangkan angkutan laut merupakan salha satu moda transportasi yang snagat menjanjikan dan dapat diandalkan khususnyauntuk pengangkutan barang, mengingat bahwa dengan angkutan laut barang dapat diangkut dalam volume yang besar dengan biaya yang relatif murah. Kontribusi subsektor angkutan laut di Provinsi Bengkulu masih lebih rendah jika dibandingkan dengan subsektor angkutan darat namun masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan subsektor angkutan udara.
Pembiayaan pembangunan berasal dari dua sumber yaitu Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD). Anggaran pendapatan pemerintah daerah bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan dan pendapatan lain-lain yang sah.Realisasi pendapatan Pemerintah Provinsi Bengkulu tahun 2010 sebanyak Rp 1000,86 milyar rupiah, sebagian besar berasal dari dana perimbangan, sedangkan sisanya dari PAD dan pendapatan lain-lain yang sah. Untuk kegiatan perbankan di Provinsi Bengkulu dari tahun ke tahun semakin meningkat, hal ini terlihat dari semakin tinggi animo masyarakat yang menyimpan uangnya di bank, baik dalam bentuk tabungan, giro, maupun deposito. Selain perbankan, koperasi (KUD maupun nonKUD) diharapkan semakin besar peranannya dalam menggerakkan perekonomia rakyat. Untuk mencapai maksud tersebut, pemerintah telah melakukan upaya antara lain melalui pemberian tambahan modal kegiatan usaha, pembinaan manajemen, mengikutsertakan koperasi dalam mengelola sumber dana dari pemerintah maupun dari yang lainnya.
Besarnya pendapatan yang diterima rumah tangga merupakan gambaran kesejahteraan masyarakat. Namun banyak faktor penghalang dalam mengumpulkan data pendapatan rumah tangga tersebut. Oleh karena itu, BPS menggunakan pendekatan pengeluaran untuk mendapatkan perkiraan pendapatan. Pengumpulan data tersebut dilakukan melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan setiap tahun. Pengeluaran rumah tangga yang terdiri dari pengeluaran untuk konsumsi makanan dan bukan makanan, menggambarkan pengalokasianpendapatan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Meskipun harga komoditas antar daerah berbeda, namun nilai pengeluaran rumah tangga dapt menunjukkan perbedaan tingkat kesejahteraan penduduk antar wilayah khususnya dari sisi ekonomi sehingga angka pengeluaran juga dapat dipakai untuk pembanding antar wilayah.
Produk Domestik Bruto (PDRB) merupakan indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Pada tahun 2010 PDRB Provinsi Bengkulu atas dasar harga berlaku telah mencpai 18,04 triliun rupiah, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 sebesar 8,33 triliun rupiah. Apabila dibandingkan dengan tahun 2009, PDRB Provinsi Bengkulu tahun 2010 atas dasar harga berlaku telah mengalami perkembangansebesar 13,29 persen, sedangkan PDRB Provinsi Bengkulu tahun 2010 atas dasar harga konstan telah mencapai perkembangan sebesar 6,02 pesen. Peranan sektor pertanian dalam perekonomian Provinsi Bengkulu hingga tahun 2010 masih sangat dominan.Kedudukan sektor pertanian sebagai leading sektor dalam perekonomianProvinsi bengkul masih sulit digeser oleh sekot-sektor lainnya. Fenomena itu terlihat dari relatif besarnya kontribusi sektor pertanian dalam PDRB Provinsi Bengkulu atas dasar harga berlaku dibandingkan sektor-sektor lainnya. Nilai nominal PDRB sektor pertanian atas harga berlaku pada tahun 2010 sebesar 7,2 triliun rupiah dan peranannya dalam PDRB Provinsi Bengkulu sebesar 39,90 persen. kemudian diikuti sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan nilai nominal atas dasar harga berlakupada tahun 2010sebesar 3,5 triliun rupiah dengan peran sebesar 19,66 persen.
Pada tahun 1998, BPS melakukan penyempurnaan standar kemiskinan yang meliputi perluasan cakupan komoditi yang diperhitungkan dalam kebutuhan dasar dengan harapan dapat mengukurtingkat kemiskinan menjadi lebih realistis. Pada tahun 2005, setelah pemerintah menetapkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM), jumlah penduduk miskin di Provinsi Bengkulu tercatat 361,2 ribu jiwa atau sebesar 22,18 persen dari jumlah penduduk. Pada tahun 2009, dari sembilan kabupate/kota di Provinsi Bengkulu, wilayah selatan provinsi merupakan daerah dengan jumlah penduduk miskin paling besar dibanding daerah lainnya, yaitu Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Kaur, dan Kabupaten Seluma masing-masing sebesar 25,08 persen, 23,49 persen, dan 23,07 persen.
Untuk memperoleh publikasi ini, baik dalam bentuk buku/cetak (hardcopy) maupun berupa file PDF (softcopy) silahkan datang ke BPS Provinsi Bengkulu.